Kamis, 05 Mei 2016

Resume Pengajian Bisnis Islami - Dari Bangsawan menjadi Jutawan oleh Ust Muh. Arifin Badri

Berikut poin-poin yang dapat saya simak dari ceramah Ust. Arifin Badri dengan tema : 
Dari Bangsawan menjadi Jutawan.
Ba’da hamdalah dan sholawat…

- Saat mengatakan,"enak ya jadi dia" sesungguhnya ia masuk ke lorong derita, sebaliknya kalau ia mensyukuri diri sendiri akan merasakan nikmatnya.
- Sukses sejati itu adalah sukses yang sudah ada di tangan kita.
- Ketahuilah masing-masing dari kita sudah mendapatkan kesuksesan.
- Antara karyawan dan majikan, mana yang senang?
jawab: Orang yg paling senang adalah orang yg mensyukuri nikmat yg ada di tangannya.
- Gagal berkali-kali adalah nikmat, karena setiap gagal mampu bangun lagi.
- Sukses itu tidak mengikuti jalur nasab, tidak identik dengan perguruan tinggi, tidak identik dengan modal besar. Jadi jangan mengkarantina "SUKSES" dengan mengatakan sukses itu milik orang kaya. JANGAN.
- Tapi sukses itu pada pola pikir
- Wirausaha bukan nasab, bukan modal,bukan masyarakat.
- WIRAUSAHA ITU DUA: KEINGINAN dan POLA PIKIR - - Siapapun bias--

- Bank datang setelah ada pengusaha, tidak ada bank yg buka di tengah hutan. tapi ada pengusaha yang tinggal di tengah hutan.
- Kehadiran satu pengusaha di suatu daerah akan mendatangkan manfaat dari para pengusaha, berbeda dari karyawan. biasanya berguna untuk keluarganya. kalaupun ada kebermanfaatannya hanya lingkup kecil.
- Wirausaha menjadi salah satu media untuk berguna bagi masyarakat.
- "Bagaikan tikus mati di ladang padi"  itulah kondisi negara kita.

- Problematika sekarang… Para pelajar atau generasi muda ingin meningkatkan taraf hidup, Ia menghitung pemasukan antara petani dengan karyawan di pabrik atau PNS. Akhirnya generasi muda tidak mau jadi petani akibatnya lading-ladang sawah berkurang, Ujung-ujungnya bergantung sama negara asing.
- Indonesia menjadi konsumen, dijadikan basis produksi, tempat investasi asing. Kita senang (banyak investor asing) padahal ini kabar buruk. banyaknya investor yang masuk ke indonesia, ini membuktikan murahnya harga di INDONESIA.
- Gaji murah, bahan baku murah, peraturan murah.ditunjang banyaknya generasi muda yang mentalnya jadi karyawan.

- Ada apa dengan sistem pendidikan di Negara KITA? semakin tinggi pendidikan, keinginan untuk jadi wirausaha semakin mengecil, malah banyak lulusan SD yang jadi wirausaha.
- Jumlah karyawan lebih besar dibanding jumlah petani. Sekarang bukan negara agraris, tapi negara karyawan.
- Pertanian tidak identik dengan kemiskinan, malahan banyak perusahaan besar yang bergerak di bidang pertanian.
- Endingnya : Indonesia di miskinkan, sehingga jumlah penduduk miskin terus meningkat.
- Jatim menjadi provinsi jumlah miskin terbanyak. BPS 2013-2014 tapi di satu sisi jatim merupakan provinsi dengan jumlah pertumbuhan ekonomi tertinggi dibandingkan provinsi lain.
- ADA APA? jawabannya : kapitalis. karena perputaran uang itu berputar di satu kelompok saja. Sedangkan yang lainnya sedang berjuang menghadapi kematian.
- Karyawan di Indonesia mati 1 tumbuh 1.000 Itulah alasan perusahaan gak takut demo buruh.

- KAPITALIS : MENJADIKAN INDONESIA SEBAGAI BASIS PRODUKSI DAN BASIS KONSUMSI.

- Mari kita rubah pola pikir agar kita menjadi negara yang memiliki daya saing. untuk mendapatkan izzah (kemulyaan) dengan negara-negara yang memiliki keimanan yang bersebrangan.
- Dunia ini akan stabil: bila ada orang kaya dan orang miskin, saling memanfaatkan yang mutualisme.
- Maka dibuatlah satu instrumen i adatut tauzih, di daalam ada lebih 15 syariat yang dengannya orang miskin akan berkecukupan yaitu:
      1.     Warisan
      2.      Kafarat : sumpah, puasa, nazar
      3.      Sedekah
      4.      Wakaf
      5.      Nafkah
      6.      Fidyah
      7.      Hibah
      8.      Luqotoh
      9.      Zakat
  10.      Faik
  11.      Gonimah
  12.     Hadiyah
  13.     Manihah
  14.     Dan lain-lain (maaf kurang jelas, pen).


- Yang miskin tidak hasad dengan yang kaya, yang kaya tidak egois.
- Dulu waktu zaman keemasan Islam: Rakyat kaya karena negaranya
- Sekarang : negara kaya karena rakyatnya.
- Jangan amini strategi kapitalis mereka.

- NABI MUHAMMAD ADALAH SEORANG KONSEPTOR EKONOMI LUAR BIASA.
- Ini cerita saat pertama kali hijrah ke Madinah:
“Ratusan sampai ribuan kepala keluarga hijrah ke madinah (banyak yang tidak bawa apa-apa), sampai Anshor menawarkan membagi kekayaannya ke Muhajirin. Tapi rasul menolak dan menawarkan kaum Muhajirin bekerja di lahan milik Anshor dan bagi hasilnya. Seandainya Nabi Muhammad Saw waktu itu menyetujui cara tersebut…. (lebih jelasnya dengarkan ceramah dari Ust. Arifin Badri, pen).

- Menjadi orang kaya tidak wajib, jadi miskin juga tidak wajib. Semuanya itu pilihan.
- Mana yang lebih baik? jawabnya adalah Orang kaya yang bertakwa.
- Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Contoh : suami lebih dihormati dibanding istri karena suami itu menafkahi. Tapi sayang sekarang banyak suami yang dinafkahi.

- Tidak ada yang lebih manjur selain segera praktik. Kewirausahaan itu bukan diteorikan atau  diceramahkan. tapi segera dipraktikkan.
- Biasanya seseorang akan mengeluarkan tenaganya ketika MEPET, itu  manusiawi.
- Jual beli jangan “ikhlas”, kalau nyewa harus ikhlas.
usaha mencari keuntungan. kalau untuk untuk ibadah bukan maksiat.

- Bedakan urusan jual beli dengan urusan sedekah, jual beli bukan sedekah. jangan dicampur adukkan.
- Uang itu tidak beranak dan tidak  bersaudara
- “Kalau sedekah itu uang sendiri, jadi terserah aku karena bukan masalah untung atau rugi, tapi kalau bisnis harus bernalar: untung atau rugi”. begitulah figur sahabat Rasul: Abdullah bin Ja'far.
- Cara supaya tidak inflasi : disedekahkan. bukan investasi emas
- Investasi apapun dengan sistem saat ini akan ada inflasi.
- Satu-satunya disipilin ilmu yang tidak mempunyai ukuran baku ya ilmu ekonomi.

- Bawa 1 juta ke mall itu, keluar masih ngutang. apalagi bawa istri.

Wallahu ta'a'ala a'lam

Silahkan untuk lebih lengkap dengan hadis atau alqur’an nya bisa dilihat di yufid.tv

Semoga bermanfaat, mohon maaf apabila ada kesalahan dalam meresum kajian tersebut.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar